apa tujuan di balik perintah mengadakan perjalanan di muka bumi
DiJepang sebagai negara maju, penyelesaian perkara sangat lama, rata-rata 10 sampai 15 tahun. Ditingkat pertama saja, rata-rata 3 sampai 5 tahun. Kritik yang serupa terjadi di Amerika, Tony Mc.Adams mengatakan: "To many Americans our systems of justice is neither systematic or just..".
AdapunIslam datang sebagai agama yang terakhir dan menyeluruh yang layak untuk diterapkan di muka bumi, sehingga Allah SWT mewariskan bumi dan apa saja yang ada di dalamnya kepada orang-orang yang berhak mewarisinya. Oleh kerana itu, agama yang terakhir ini harus mempunyai karakter khusus dan karakter itu adalah karakter keadilan.
Makhlukyang akan mengelola bumi dan memberlakukan perintah-perintah Allah di sana, yaitu manusia di mana sebagiannya akan digantikan oleh yang lain. Maksud ayat di atas adalah bahwa para malaikat meminta diberitahukan hikmah di balik penciptaan mereka, padahal makhluk tesebut menurut perkiraan mereka akan mengadakan kerusakan di muka bumi
Sekitarpukul 11.00 WITA kami memulai perjalanan, dimana saat-saat seperti itu Kota Makassar padat dengan kendaraan. Beberapa titik yang sering macet, seperti pertigaan tugu Tallo hingga depan M’Tos benar-benar membuat gerah dan panas di tengah terik matahari. Jalan yang macet kemudian memisahkan rombongan kami.
Sesungguhnyadakwah Islam, itu bercakap dan berbicara kepada akal dan fitrah manusia, menyeru mereka dengan hikmah, nasihat, tunjuk ajar yang baik dan dengan perbincangan dan perdebatan yang lebih baik, menyeru mereka supaya beriman kepada Allah, bertauhid kepada Allah, mengesakan Allah, dan beribadat kepada Allah tanpa paksaan.
Wie Kann Ich Mit Einem Mann Flirten. قُلْ سِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ ثُمَّ ٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ Arab-Latin Qul sīrụ fil-arḍi ṡummanẓurụ kaifa kāna 'āqibatul-mukażżibīnArtinya Katakanlah "Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu". Al-An'am 10 ✵ Al-An'am 12 »Mau dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarangKandungan Menarik Terkait Surat Al-An’am Ayat 11 Paragraf di atas merupakan Surat Al-An’am Ayat 11 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada aneka ragam kandungan menarik dari ayat ini. Terdokumentasi aneka ragam penjelasan dari berbagai pakar tafsir terkait isi surat Al-An’am ayat 11, di antaranya seperti terlampir📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi ArabiaKatakanlah kepada mereka wahai rasul, ”berjalanlah kalian di muka bumi, dan kemudian perhatikanlah bagaimana Allah menimpakkan kebinasaan dan kehinaan bagi orang-orang yang mendustakan? maka hindarilah oleh kalian cara-cara kematian yang sama dengan mereka. Dan takutlah kalian akan datangnya siksaan yang serupa dengan apa yang telah menimpa mereka.”📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid Imam Masjidil Haram11. Katakanlah -wahai Rasul- kepada orang-orang yang telah mendustakan dan mengolok-olok itu, “Berjalanlah kalian di muka bumi. Kemudian pikirkanlah bagaimana akhir dari perjalanan orang-orang yang dahulu mendustakan para utusan Allah. Mereka benar-benar ditimpa hukuman dari Allah setelah sebelumnya mereka memiliki kekuatan dan ketahanan yang luar biasa.”📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah11. Ini merupakan anjuran Allah yang bermakna Berjalanlah untuk mengambil ibrah dan pelajaran dari setiap kejadian dan peristiwa, dan dari keadaan umat-umat terdahulu. Lihatlah bagaimana Allah menimpakan kehinaan kepada orang-orang yang mendustakan? Maka berhati-hatilah agar kalian tidak tertimpa apa yang telah menimpa dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah11. قُلْ سِيرُوا۟ فِى الْأَرْضِ Katakanlah “Berjalanlah di muka bumi Yakni lakukanlah perjalanan diatas bumi, dan lihatlah bagaimana sisa-sisa yang ditinggalkan oleh orang-orang sebelum kalian. Agar kalian mengetahui balasan yang diturun kepada mereka, setelah sebelumnya mereka berada dalam kenikmatan yang luas. Dan kalian akan menyusul mereka dalam kebinasaan apabila kalian menapaki jalan mereka dalam mendustakan Allah.📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah11. Wahai rasulullah, katakanlah kepada orang-orang yang mengolok-olok itu “Berpergianlah kalian di bumi, dan lihatlah jejak-jejak umat terdahulu supaya kalian menyadari hukuman yang menimpa mereka, dan lihatlah bagaimana takdir orang-orang yang mendustakan rasul mereka. Kalian akan dibinasakan seperti mereka jika kalian berdusta seperti mereka”📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-Awaji, professor tafsir Univ Islam MadinahKatakanlah, “Berjalanlah di bumi, kemudian perhatikanlah} pikirkanlah {bagaimana hukuman orang-orang yang mendustakan itu.”Mau dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H11. Jika kamu bimbang atau ragu dalam perkara ini, maka “berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” Kamu tidak mendapatkan kecuali kaum yang dibinasakan dan umat yang bergelimpangan di terpa azab , derita dan dalam keadaan rusak. Negeri-negeri sepi, daerah-daerah itu pun lenggan, seluruh penikmat kebahagiaan luruh, Maharaja yang berkuasa membinasakan mereka berita mereka menjadi pelajaran bagi ulil abshar. Perjalanan yang di perintahkan ini perjalanan dan badan yang mengahsilkan pembelajaran. Adapun sekedar melihat tanpa mengambil pelajaran, maka ia sama sekali tidak berguna.📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, Al-An’am ayat 11 Yakni jika kamu masih meragukannya, maka jelajahilah bumi…dst. di mana sebagian bangunan mereka yang dibinasakan masih tersisa sehingga dapat diambil pelajaran. Perintah mengadakan perjalanan ini merupakan perjalanan yang menggabung antara hati dengan badan, di mana dengannya seseorang dapat mengambil pelajaran. Adapun jika melihat-lihat tanpa mengambil pelajaran, maka tidak ada faedahnya.📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-An’am Ayat 11Orang-orang kafir lalu diminta untuk mengamati nasib umat manusia sebelumnya yang mendustakan ajaran Allah. Katakanlah, wahai nabi Muhammad, kepada orang-orang kafir yang menolak ajakan beriman kepada Allah, jelajahilah bumi, dengan mengunjungi jejak para nabi dan menelaah kisah umat-umat terdahulu, kemudian perhatikanlah dengan cermat melalui pikiran yang jernih dan hati yang bersih, bagaimana kesudahan, perjalanan hidup dan nasib orang-orang yang mendustakan ajaran rasulullah itu di dunia' katakan juga, wahai nabi Muhammad, kepada orang-orang kafir yang sombong dan keras kepala itu, milik siapakah apa yang ada di langit dan di bumi' katakanlah, semua makhluk yang ada di langit dan bumi ini adalah milik Allah. Dia telah menetapkan dan memilih sifat kasih sayang dengan berjanji pada diri-Nya untuk mendahulukan kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada murka. Dia sungguh akan mengumpulkan kamu, seluruh manusia sejak nabi adam hingga manusia akhir zaman, pada hari kiamat, dalam kehidupan sesudah mati. Pengumpulan seluruh umat manusia ini tidak mungkin diragukan lagi kejadiannya. Dalam pertemuan itu, ada yang beruntung dan ada yang rugi. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu orang-orang yang tidak beriman, sedangkan yang beruntung adalah mereka yang beriman dan beramal saleh dengan dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarangItulah beberapa penjabaran dari para ulama berkaitan makna dan arti surat Al-An’am ayat 11 arab-latin dan artinya, moga-moga membawa manfaat untuk kita semua. Sokonglah syi'ar kami dengan mencantumkan backlink ke halaman ini atau ke halaman depan Yang Sering Dikaji Nikmati ratusan materi yang sering dikaji, seperti surat/ayat Al-An’am, Al-Fajr, Al-Maidah, Al-Insyirah 5-6, Al-Adiyat, Al-Baqarah 153. Termasuk Ar-Ra’d 11, Luqman 14, Ali Imran 190-191, Al-Balad, Al-Baqarah 185, Juz al-Qur’an. Al-An’amAl-FajrAl-MaidahAl-Insyirah 5-6Al-AdiyatAl-Baqarah 153Ar-Ra’d 11Luqman 14Ali Imran 190-191Al-BaladAl-Baqarah 185Juz al-Qur’an Pencarian surah ali imran 173, al ahzab ayat 7, an nisa 136 dan artinya, quran surat an-nahl ayat 97, latin surat al kahfi Dapatkan amal jariyah dengan berbagi ilmu bermanfaat. Plus dapatkan bonus buku digital "Jalan Rezeki Berlimpah" secara 100% free, 100% gratis Caranya, salin text di bawah dan kirimkan ke minimal tiga 3 group WhatsApp yang Anda ikuti Silahkan nikmati kemudahan dari Allah Ta’ala untuk membaca al-Qur’an dengan tafsirnya. Tinggal klik surat yang mau dibaca, klik nomor ayat yang berwarna biru, maka akan keluar tafsir lengkap untuk ayat tersebut 🔗 *Mari beramal jariyah dengan berbagi ilmu bermanfaat ini* Setelah Anda melakukan hal di atas, klik tombol "Dapatkan Bonus" di bawah
Perjalanan hidup di muka bumi ini memang tidak selamanya seindah yang kita harapkan. Ada berbagai rintangan yang harus dilalui, namun jangan pernah menyerah karena di balik setiap perintah mengadakan perjalanan di muka bumi pasti ada tujuan yang besar dan indah. Teringat saat saya melihat foto dari salah satu traveler yang berhasil saya temukan di internet. Pemandangan spektakuler dari atas ketika ia sedang menikmati sunrise di pegunungan, atau mungkin foto tersebut menggambarkan dirinya sedang menikmati panasnya terik matahari di laut. Setiap foto yang ia bagikan selalu memberikan air rasa ingin tahu dan keinginan untuk mengejar impian saya sendiri. Mungkin sebagian dari kita merasa takut untuk memulai petualangan atau kita merasa malu karena tidak memiliki keterampilan yang cukup. Namun, perjalanan hidup kita tidak akan pernah mulai jika kita tidak memulai dengan langkah pertama. Kita tidak harus menjadi ahli dalam satu bidang tertentu untuk memulai perjalanan kita, namun kita harus memiliki tekad dan semangat untuk terus belajar dan berkembang. Jangan pernah takut untuk mengambil resiko, karena itulah yang akan membuat kita mengalami pengalaman dan menjadi orang yang lebih baik. Seperti pepatah mengatakan “jangan makan nasih dulu kalau saja tidak sudah mengambil resiko yang cukup besan”, dengan mengambil resiko kita bisa belajar dari kesalahan kita, memperkuat mental kita, dan menjadi sosok yang lebih percaya diri. Di masa pandemi ini seringkali kita merasa terjebak di dalam rutinitas yang sama setiap hari, namun jangan biarkan hal ini membuat kita merasa tidak produktif. Jangan lupa untuk menyempatkan diri untuk melakukan perjalanan, meskipun hanya dalam bentuk virtual saja. Banyak situs yang menyediakan informasi dan galeri foto tentang tempat-tempat paling indah di dunia, dan ini bisa membuat kita merasa lebih termotivasi untuk meluangkan waktu untuk traveling setelah pandemi berakhir. Jangan lupa, perjalanan yang sebenarnya tidak hanya merujuk pada jarak di antara tempat yang berbeda. Ini lebih dari itu, perjalanan ini melibatkan pengalaman baru, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk menghadapi rintangan. Hal ini akan membantu kita tumbuh dan menjadi sosok yang lebih baik dalam hidup kita. Sebelum berakhirnya artikel ini, saya ingin memberikan beberapa tips agar perjalanan hidupmu menjadi lebih baik, yaitu – Miliki tujuan dan rencana, karena hal ini akan membantu kita untuk fokus dan merencanakan setiap langkah. – Jangan takut untuk meminta bantuan dan dukungan dari orang lain. Kita tidak perlu merasa sendiri dalam perjalanan kita. – Jadilah diri sendiri dan nikmati setiap detiknya. Kita tidak perlu menjadi orang lain untuk mendapatkan pengalaman hebat. Jadi, jangan ragu untuk memulai perjalananmu di muka bumi ini, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi jika kita tidak memulainya. Bersabarlah, beranilah bertindak, jangan takut mengambil resiko, dan selalu bersyukur. Siapa tahu, perjalananmu akan menjadi inspirasi bagi orang lain dan membuka jalan bagi mereka untuk mulai petualangan mereka sendiri. Happy traveling!
Apa Tujuan di Balik Perintah Mengadakan Perjalanan di Muka Bumi 2022-04-14 By Rahmi On April 14, 2022 In Traveling Banyak orang mungkin bertanya-tanya apa tujuan di balik perintah mengadakan perjalanan di muka bumi. Apakah hanya untuk bersenang-senang atau ada tujuan lain yang lebih penting? Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa tujuan di balik perintah mengadakan perjalanan dan bagaimana perjalanan dapat mempengaruhi hidup kita secara positif. Menjelajahi Tempat BaruContinue Reading
Perintah Allah, Berjalanlah di Muka Bumi Terdengar gawaiku berbunyi membangunkan ku pukul dua dini hari, aku memang sengaja mengatur alarmnya agar tidak terlambat berangkat salat subuh di Masjidil Haram. Kami berencana setelah subuh akan lansung Tawaf Wada’. Maka segera aku bersiap-siap. Bersama suami pagi itu aku menembus dinginnya Kota Mekah menuju Masjidil Haram. Ini hari terakhir kami di sini setelah menyelesaikan ibadah umroh. Nanti siang kami akan terbang ke Kairo. Ketika sampai di gerbang Masjidil Haram suasana sudah ramai, pintu menuju lantai satu sudah di tutup. Terpaksa kami naik lift ke lantai dua. Alhamdulillah di sini masih ada tempat untuk salat. Aku berpisah dengan suami, karena dia akan salat di shaf depan sedangkan jemaah wanita salat di shaf belakang. Sebelumnya kami sudah berjanji setelah selesai salat subuh bertemu di dekat lift, untuk selanjutnya kami akan memulai tawaf wada’. Waktu subuh masih cukup lama, masih sempat untuk salat tahajud, maka aku segera mencari tempat untuk menggelar sajadah dan melaksanakan salat sunah Tahajud. Selesai tahajud ternyata masih belum terdengar azan subuh dikumandangkan, aku masih punya waktu untuk membaca Al Quran, aku bergerak ke rak Al Qur’an yang ada disamping shaf salat kami. Di sana memang tersedia banyak Al Qur’an dengan berbagai ukuran yang biasanya merupakan wakaf dari Jama’ah yang beribadah di masjid yang mulia ini. Akhirnya azan subuh berkumandang dengan indahnya. Aku segera menghentikan bacaanku dan menjawab setiap lafaz azan yang diserukan oleh muazin. Tak terasa air mata jatuh membasahi pipiku, kesedihan begitu mendalam yang menyusup kedalam kalbuku. Ini terakhir kali aku mendengar azan di Masjidil Haram dalam rangkaian umrohku kali ini, karena nanti aku akan melaksanakan tawaf perpisahan untuk pamit melanjutkan safari religiku ke Kairo. Selesai salat subuh dan berzikir, aku bergegas menuju lift. Benar saja suamiku telah menunggu di sana. Maka segera kami bergerak menuju tempat memulai tawaf di lantai dua yaitu di bagian yang ditandai dengan lampu hijau. Tempat ini sejajar dengan Rukun Hajar Aswad. Kami sengaja memulai dari lantai dua karena di lantai satu masih sangat ramai. Setelah melewati dua putaran, pada putaran ketiga kami turun ke lantai satu dan melanjutkan tawaf di pelataran Ka’bah sampai tujuh putaran. Alhamdulillah akhirnya kami sampai kembali di Rukun Hajar Aswad setelah tujuh putaran. Kami mengakhiri tawaf dan segera keluar dari lingkaran jemaah yang masih bertawaf. Kami menuju Multazam untuk melaksanakan salat dua rakaat dan berdoa. Di tempat yang mutajab ini yaitu diantara pintu ka’bah dengan maqam Ibrahim, banyak doa yang kami pinta. Kami meminta agar dapat kembali lagi ke sini bersama anak-anak, mohon segala kebaikan untuk keluarga dan minta hati kami selalu cinta kepadaNya, dijaga akidah dan selalu diberi taufik dan hidayahNya. Karena makin banyak orang juga masuk ke Multazam, kami segera berpindah untuk memberi tempat pada mereka. Kemudian kami mengambil air zam-zam yang telah disediakan di tong-tong air di belakang area Multazam. Setelah semua rangkai ibadah tawaf selesai kami segera kembali ke hotel untuk sarapan pagi dan bersiap-siap ke bandara. Selesai sarapan kami menunggu bis di lobi hotel. Ketika semua jamaah telah berkumpul kami segera berangkat. Saat bis mulai bergerak meninggalkan Kota Mekah hati kembali terasa sangat sedih apalagi setelah melewati tugu Al Qur’an raksasa yang menandakan kita telah keluar dari Tanah Haram, makin bertambah kesedihannya. “Kapan ya kita bisa ke sini lagi”, kami saling bertanya yang merupakan ungkapan kesedihan, takut kalau-kalau tidak bisa lagi memenuhi panggilan Allah untuk beribadah di Baitullah. Sebelum ke Bandara masih ada agenda dari paket tour kami yaitu singgah di pertokoan di Jedah untuk membeli oleh-oleh di Kawasan Balad dan Corniche. Kawasan ini dekat laut Merah. Beragam barang dijual di sini, seperti karpet, sajadah, perhiasan hingga barang-barang elektronik. Pelayannya fasih berbahasa Indonesia bahkan sebagian memang ada yang orang indonesia asli. Kami diberi waktu tidak lama di sini hanya 30 menit, setelah itu lansung beragkat menuju bandara King Abdul Aziz. Sebelum masuk bandara kami sholat dan makan siang dulu di Masjid Qisas. Nama masjid ini merujuk pada istilah hukuman dalam islam yaitu qisas yang berarti pembalasan. Di masjid inilah dilaksanakan hukuman bagi orang yang melakukan kesalahan. Pelaksanaannya setiap usai salat Jumat di depan umum. Selanjutnya kami bergerak menuju bandara. Setelah cek in dan pemeriksaan imigrasi kami segera menaiki pesawat yang membawa kami ke Kairo. Kami dapat tempat duduk dekat jendela, memang saat memesan tiket aku sudah memesan yang dapat melihat pemandangan keluar jendela. Penerbangan dari Jedah ke Kairo akan ditempuh selama 2 jam, 10 menit. Kursi penumpangnya cukup nyaman, terdapat perangkat AVOD yang tampilannya agak kuno, mungkin ini pesawat yang sudah agak lama. Menu film yang terdapat di dalamnya cukup banyak, tapi aku tidak begitu suka menonton film. Maka segera Aku pasang penutup mata yang terdapat di comfort kit yang sudah tersedia di kantong kursi. Selain penutup mata juga ada penutup telinga, headset, kaos kaki, sikat gigi dan odol. Tapi Aku tidak bisa segera tidur karena pramugari datang menawarkan makan malam. Selesai makan malam aku mencoba untuk mencari beberapa film namun tidak ada yang menarik minatku. Aku lihat ke sebelah ternyata suami telah tertidur dengan nyenyak. Dia terlihat sangat lelah karena telah bangun pagi sekali kemudian ke Masjidil Haram untuk sholat subuh dan Tawaf Wada’, ditambah lagi perjalanan ke bandara yang cukup melelahkan. Lama tidak bisa tidur Aku mencoba membayangkan seperti apa Kota Kairo dari penjelasan di artikel-artikel yang telah aku baca. Kota tua dengan peradaban kuno yang telah mengukir banyak sejarah manusia. Bahkan sampai diberitakan Allah dalam Al Qur’an. “Luar biasa bangsa ini, sampai Allah menjadikannya pelajaran bagi umat manusia”, batinku dalam hati. Semoga aku nanti di sana banyak mendapat pelajaran yang akan makin memperkuat keimananku pada Allah, harap ku. Sesungguhnya memang Allah memerintahkan kita banyak berjalan di muka bumi ini. Sebagaimana FirmanNya dalam Al Quran Surat An Naml 69 yang berbunyi,”Katakanlah “Berjalanlah kamu di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa”. Diperjelas lagi oleh Allah dalam surat Al Mu’min 82 dengan FirmanNya, “ Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan lebih banyak bekas-bekas mereka di muka bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka” Ayat-ayat ini makin meyakinkan Aku bahwa safari religi yang kami lakukan mulai dari ziarah ke Makam Rasul di Madinah, Umroh di Masjidil Haram Mekah dan sekarang dilanjutkan ke Kairo juga termasuk rangkaian ibadah yang disukai Allah. Aku berharap mendapat pengetahuan yang banyak dan makin mampu memahami hakekat hidup. Sehingga lebih bersyukur dan senantiasa bertasbih serta khusuk dalam beribadah. Aamiin YRA. Spirit ini makin membuat aku bersemangat untuk segera menjalajahi setiap sejarah yang ada di negeri seribu menara itu. Lamunanku terhenti ketika melihat keluar jendela pesawat, terlihat perairan luas yang kiri kanannya dipenuhi oleh sinar lampu. “Sungai Nil”, seruku dalam hati. Sungguh sangat indah banyangan cahaya kerlap kerlip lampu itu jatuh di perairan sungai. Kairo dari udara begitu indah. Sebentar lagi kami akan mendarat di sana. Kairo Aku datang!!! tantanganGurusiana hari ke 37
Khutbah Iاَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ مَنْ تَوَكَّلَ عَلَيْهِ بِصِدْقِ نِيَّةٍ كَفَاهُ وَمَنْ تَوَسَّلَ إِلَيْهِ بِاتِّبَاعِ شَرِيْعَتِهِ قَرَّبَهُ وَأَدْنَاهُ وَمَنِ اسْتَنْصَرَهُ عَلَى أَعْدَائِهِ وَحَسَدَتِهِ نَصَرَهُ وَتَوَلاَّهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ حَافَظَ دِيْنَهُ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أَمَّابَعْدُ أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهِاُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَMa'asyiral Muslimin RahimakumullahAl-Qur'an merupakan kitab suci yang tidak hanya bernilai ibadah bagi pembacanya, tapi sekaligus menjadi sumber inspirasi, motofasi hidup, penyemangat dalam bekerja dan berkarya serta menjadi pedoman arah dalam bidang apapun baik sosial-kemasyarakatan, ekonomi, politik, pendidikan, dan bidang-bidang lainnya. Hal itu dengan syarat jika ia kita pelajari dengan tekun. Maka pada kesempatan khutbah Jumat kali ini perkenankanlah kami untuk mencoba mengupas salah satu dari mutiara Al-Qur'an yang diantaranya menerangkan tentang tugas Kepemimpinan dan Tanggungjawab manusia selaku Khalifah Tuhan di alam dunia ini, yang termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 30 وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً. قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ. قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَYang artinya "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan satu khalifah di muka bumi. Mereka malaikat berkata, apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu siapa yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu? Tuhan berfirman, sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Betapa eloknya penuturan Allah dalam ayat tersebut, di mana Ia menggunakan metode qishshah atau berkisah yang mencerminkan keindahan sastranya yang jujur, suatu cerita yang tidak dibuat-buat sebagaimana karya fiksi, melainkan demi penyampaian kebenaran yang sentral yang terkandung dalam ayat tadi ialah maklumat atau berita didaulat atau diangkatnya manusia oleh Allah sebagai Khalifah atau Wakil Tuhan di muka bumi ini; yaitu ditetapkannya manusia sebagai pemakmur, pengatur dan pengelola sistem kehidupan di panggung dunia ini. Supaya tercipta kehidupan yang harmonis, damai, tentram dan sejahtera serta memperoleh kebahagian hidup di dunia hingga akhirat. Dipilihnya manusia oleh Allah sebagai khalifah, bukannya memilih makhluk lain seperti jin, malaiakat apalagi hewan, lantaran hanya manusialah yang memiliki kelayakan dan kepantasan menjadi pemimpin, mengelola alam, dengan aneka kelebihan dan potensi yang dipunyai manusia seperti akal dan intuisi. Manusia sebagai makhluk paling istimewa di antara makhluk lainnya lantaran dikaruniai akal budi dan perasaan hati, sehingga dari waktu ke waktu senantiasa mampu menciptakan kemajuan-kemajuan yang mencengangkan dalam berbagai bidang khususnya semenjak umat manusia mulai mengenal tulisan yang selanjutnya dikenal dengan nama zaman sejarah. Akal budi inilah yang membedakan antara hewan dan manusia, sebagaimana pernyataan para ahli mantiq atau logika yang merujuk pada tesisnya Aristoteles "Al insaanu hayawanun naatiq" manusia adalah hewan yang mampu mengapa hewan dari zaman batu, zaman bahula hingga era kemajuan teknologi dan informasi sekaramg ini keberadaannya sama saja, tetap begitu-begitu saja, tetap telanjang, tetap tak tahu etika, tetap bodoh. Sementara manusia walau di zaman batu nyaris sama dengan hewan karena begitu primitifnya, tapi lambat laun, setahap demi tahap semakin berkebudayaan dan berperadaban, makin progresif, mampu membuat pakaian, senjata, membangun rumah permanen hingga merancang kendaraan dan alat komunikasi yang canggih. Dahulu, berabad-abad lamanya manusia hanya dapat bepergian dalam jarak yang yang dapat dicapainya dengan jalan kaki. Sekedar contoh di tahun 1967, 108 juta orang Amerika tercatat masih mengadakan 360 juta perjalanan yang melebihi sehari semalam dan dalam jarak lebih 100 kilo meter dari rumahnya. Berkat meningkatnya peradaban manusia kecepatan pada abad 20 dengan diciptakannya alat-alat pengangkutan moderen menyebabkan perpindahan manusia menjadi soal biasa dan jauhnya jarak antara satu tempat dengan tempat lainnya tidak lagi menjadi masalah. Demikian pula tentang perkembangan cara berkomunikasi, beribu-ribu tahun lamanya manusia hanya menggunakan teriakan alami atau suara gong, atau menggunakan surat-menyurat untuk menyampaikan pesan kepada orang yang berada di daerah yang saling berjauhan. Tapi kini seiring dengan pesatnya kemajuan informasi dan teknologi seakan luasnya dunia sudah tanpa sekat dan jarak lagi. Singkat kata pada akhirnya manusia berkat berbagai bakat anugerah dari Allah terutama naluri berpikir, sebagaimana kita saksikan sendiri hari ini telah hidup dalam suatu zaman yang penuh dengan sarana yang serba canggih, yang memudahkan segala kebutuhan hidup manusia berkat pesatnya kemajuan dalam bidang industri, teknologi dan komunikasi. Sidang jama'ah shalat Jumat yang dimuliakan AllahKembali ke ayat yang tengah kami baca, setelah Allah memberitau kepada malaikat bahwa akan diciptakan makhluk bernama manusia yang akan diangkat menjadi khalifah, mereka para malaikat balik bertanya sembari mengira bahwa makhluk manusia ini diprediksi kelak akan membikin kerusakan, kekacauan dan saling menumpahkan darah. Rupanya Malaikat beranggapan bahwa alam dunia hanya dibangun dengan tasbih dan tahmid saja, sebagaimana yang telah mereka perankan kala itu. Menjawab pertanyaan mereka Allah menjawab dengan singkat tanpa membenarkan ataupun menyalahkannya, karena memang akan ada di antara yang diciptakannya itu yang berbuat seperti apa yang diduga malaikat. Allah menjawab singkat" Sesunggunya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."Dan dalam faktanya sekarang dengan melihat pada realitas pengalaman sejarah umat manusia dari masa ke masa memang tidak sedikit golongan manusia yang suka berperang, hobi menumpahkan darah atas sesama manusia hanya dengan alasan untuk menguasai kekayaan hasil bumi. Perang dunia I dan Perang dunia II dua pada pada awal abad 20 hakikatnya adalah perang merebutkan materi kekayaan antar bangsa khususnya oleh bangsa-bangsa Eropa yang saling hendak memperluas daerah koloni dan jajahannya di kawasan Asia dan Afrika tak kecuali di Nusantara. Betapa banyaknya korban yang meninggal akibat perang memperebutkan daerah jajahan ini, mereka yang mati tidak Cuma kalangan tentara tapi juga rakyat biasa. Sekedar satu contoh ketika dua kota di Jepang yaitu kota Nagasaki dan Herosima dijatuhi bom atom oleh Amerika, jumlah korban yang mati waktu itu ternyata jauh melebihi jumlah korban bencana alam Tsumani yang melanda Aceh tahun 2004. Sejarahwan mencatat orang yang meninggal akibat bom atom di dua kota Jepang itu mencapai lebih dari 200 ribu jiwa. Itu baru akibat bom atom. Belum menghitung kekejaman Hitler di Jerman yang membantai dan berusaha melenyapkan orang Yahudi, padahal kekerasan ini Cuma soal rasisme, perbedaan ras, saling mengaku rasnya paling mulia. Ternyata didaulatnya manusia menjadi khalifah tidak melulu dibekali oleh kemampuan intlektual semata, tapi supaya benar-benar mampu mengemban tanggungjawab kepemimpinanya di dunia ini dan agar semua kelebihan yang dimiliki manusia tidak digunakan untuk hal-hal yang bersifat merusak dan negatif seperti yang diperkirakan malaikat, maka manusia diikat, dikontrak secara tauhid oleh Allah melalui kesediaan manusia menerima amanah, tanggung jawab ketika mahkluk lain, langit, bumi, gunung dan sungai-sungai menolak amanah yang berat soal ini di surat lain, surat Al-Ahzab ayat 72 , Al-Qur'an menarasikan hal ini dengan sangat-sangat dramatis, begitu mengesankan dan menggetarkan hati, lewat Firman Allah إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ. إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” Amanah yang dibebankan pada manusia ini mengandung arti bahwa pihak pemberi amanah yaitu Tuhan percaya dan mengharapkan si pemegang amanah akan melaksanakannya sesuai dengan keinginan pemberinya, dan bukan sebaliknya seturut kehendak nafsu manusia sendiri. Nah! Kesanggupan manusia untuk menerima tugas atau amanah sebagai khalifah Allah di bumi tersebut mengandung resiko dan akibat yang luas. Sebab manusia secara fitrah membawa potensi baik sekaligus potensi buruk. Potensi baik memungkinkan manusia menjadi berguna, bermanfaat bagi manusia, hewan dan alam. Namun potensi buruk memungkinkan dirinya melakukan pengrusakan dan kejahatan di bumi dan alam raya yang menjadi obyek sekaligus media menerima amanat ini tidak mudah mengamalkannya, namun disebabkan amanat ini pula manusia menjadi berderajat lebih tinggi ketimbang malaikat karena manusia dapat berbuat lebih daripada malaikat dengan modal kemerdekaanya serta pengetahuannya tentang kehendak Allah melaui pembacaan atas wahyu. Oleh karena itu, untuk dapat mengetahui kehendak Tuhan, manusia diberi wahyu yang dibabarkan di dalamnya mengenai apa yang diinginkan Tuhan agar diwujudkan oleh manusia di muka bumi ini. Dengan demikian tugas kekhalifahan oleh manusia, sudah dibekali oleh Allah rambu-rambu jalan bernama petunjuk wahyu supaya dapat melaksanakannya dengan optimal sesuai apa yang di kehendaki sang pemberi amanat. Sejarah manusia modern yang mengemuka dewasa ini membuktikan bahwa peradaban yang dihasilkan, ternyata sebagian besar telah melenyapkan harapan akan kesuksesan tugas yang dipikulkan di pundak mereka, tidak sukses mewujudkan kehidupan yang tertata dan terkelola dengan harmonis melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di satu sisi Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai produk kekhalifahan memang menjadi bukti otentik bagi kemudahan dan kenyamanan manusia hidup di bumi ini. Namun di sisi lain Sebaliknya, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan, manusia menjadi makhluk yang aneh dengan saling bermusuhan antar sesama. Melakukan pencemaran dan perusakan ekosistem alam akibat teknologi-teknologi yang tidak ramah lingkungan. Para hadirin yang berbagia, supaya hasil teknologi dan sains yang merupakan perwujudan kreasi Kekhalifahan tidak menjadi senjata makan tuan yang merugikan bagi manusia sendiri serta tidak merusak ekosistem lingkungan, maka kita haruslah menyadari bahwa betapapun hebat dan canggihnya segala penemuan industri dan teknologi, namun itu bukanlah tujuan, melainkan sebatas sebagai sarana dalam mencapai tujuan. Adapun tujuan itu adalah menakhlukkan rintangan dan kesulitan perjalanan hidup yang diakibatkan oleh kebodohan dan kelemahan manusia, memanfaatkan segala sumber daya alam yang tersedia serta mempergunakannya untuk tujuan-tujuan sehat yang berfaidah, dan bukannya justru untuk berbuat kejahatan di muka bumi. Penemuan listrik, mobil, pesawat terbang, kapal, radio, televisi, internet, hp, media sosial dan sejenisnya, semua itu semestinya kita jadikan sebagai sarana, perantara dan wasilah dalam menggapai tujuan, jadi bukan dianggap tujuan itu sendiri dalam menggunakannya. Oleh karena itu kita bisa menilai baik atau buruk, berguna atau berbahaya, terhadap semua sarana produk teknologi dan hasil sains itu, diukur dari baik atau buruknya tujuan pemakainya. Lalu penemuan media-media komunikasi mutakhir dengan segala kecanggihanya yang mengagumkan seyogianya digunakan secara benar sesuai fungsinya. SMS, Facebook, BB, dan Telefon dipakai untuk menjalin hubungan baik dengan keluarga yang jauh, teman, rekan kerja dan siapapun, di samping untuk melancarkan urusan bisnis dan pekerjaan. Internet kita maksimalkan untuk menggali informasi yang dibutuhkan, mengakses pengetahuan yang up to date serta memublikasikan karya-karya yang bermanfaat. Facebook, Twitter dan media sosial lainnya bukan hanya untuk mengerjakan hal-hal yang tak berguna tiada manfaatnya seperti mengerumpi tanpa batas, menggunjing aib orang lain, memposting foto narsisnya, membuang waktu dengan bermain game dan lain sebagainya. Kegiatan macam ini jelas kontra produktif dengan maksud tujuan diciptakanya alat-alat teknologi komunikasi ini. Siapa yang terlena pada alat-alat sarana ini sembari lupa akan maksud tujuannya dia bagaikan orang yang sibuk memakai helm tapi tak mengendarai motor. Atau laksana membangun garasi mewah tapi tak punya mobilnya. Bagaimanapun manusia selaku khalifah Tuhan sangat perlu dan membutuhkan semua kecanggihan teknologi dan penemuan mutakhir ilmu pengetahuan dan sains demi mencapai keberhasilan dalam menjaga, mengurus, merumat dan mengeramut alam yang kita diami ini, selagi manusia yang memakainya masih berpedoman pada etika dan moral agama. Toh jika ternyata ilmu pengetahuan dan produk teknologi tersebut ternyata mengakibatkan ekses-ekses negatif dan merusak, itu bukan salah alat-alat teknologinya, tapi manusia penggunanyalah yang error, bermental biadab, barbar, lantaran jauh dari pedoman etika dan moral tuntunan sebagai penutup, kita berharap semoga kita yang telah diamanahi tanggung jawab sebagai Khalifah Allah mampu melaksanakan dan menjalankannya dengan baik sesuai apa yang dikehendaki oleh Allah. Dan agar berhasil mengamalkannya maka menjadi kewajiban bagi kita dalam menjalani kehidupan di alam dunia ini untuk senantiasa berpegang teguh pada ajaran Al-qur'an, Sunnah Nabi dan dawuh para Ulama solih seraya berupaya meneladani nama-nama Allah yang indah yaitu Asmaul husna. Insa Allah dengan komitmen mentaati apa yang telah diatur oleh syariat agama, manusia tidak akan menyeleweng dan menyimpang dari tugas tanggungjawabnya selaku pemimpin, pengelola dan pemakmur di bumi ini. Demikianlah khotbah kali ini, semoga hal ini dapat menjadi bahan renungan yang mendalam, bagi kita semua اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ IIاَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَاَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْM. Haromain
apa tujuan di balik perintah mengadakan perjalanan di muka bumi